Declinism

perasaan bahwa dunia semakin hancur padahal data berkata sebaliknya

Declinism
I

Pernahkah kita terbangun di pagi hari, membuka ponsel, dan merasa dunia ini sedang meluncur deras menuju kehancuran? Berita perang ada di mana-mana. Ancaman krisis ekonomi mengintai. Iklim yang makin gila dan tidak tertebak. Membaca linimasa media sosial membuat kita sering membatin, zaman sekarang ini hancur-hancuran sekali. Masa depan seolah tampak gelap gulita dan tanpa harapan. Rasanya wajar kalau kita merasa cemas, lelah, dan pesimis. Apalagi kalau kita membandingkannya dengan kenangan masa kecil yang terasa damai, tenang, dan sederhana. Tapi, mari kita jeda sejenak dan berpikir kritis. Benarkah dunia yang kita pijak ini sedang merosot tajam menuju kiamat? Atau jangan-jangan, ada semacam eror kecil dalam cara otak kita memproses realitas sehari-hari?

II

Mari kita mundur jauh ke belakang. Kalau teman-teman mengira perasaan "zaman dulu lebih baik dari sekarang" ini hanya milik generasi kita, kita keliru besar. Ternyata, keluhan macam ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Di zaman Yunani Kuno, para filsuf mengeluhkan generasi muda yang katanya tidak punya sopan santun dan merusak tatanan masyarakat. Pada abad pertengahan, orang-orang sangat yakin kiamat sudah di depan mata karena rentetan wabah penyakit. Setiap generasi, tanpa kecuali, tampaknya selalu merasa bahwa mereka sedang hidup di ujung zaman. Mereka selalu melihat masa lalu sebagai era keemasan yang hilang. Pola sejarah yang terus berulang ini memunculkan satu teka-teki yang menarik. Kenapa manusia di berbagai era selalu merasa dunia ini makin memburuk?

III

Jawabannya ternyata tidak ada di luar sana, melainkan tertanam kuat di dalam kepala kita sendiri. Para ilmuwan psikologi dan neurosains menemukan bahwa otak manusia punya rancangan bawaan yang sedikit unik. Kita memiliki apa yang disebut negativity bias atau bias negatif. Bagian otak kita yang memproses rasa takut, yaitu amygdala, sangat sensitif terhadap ancaman. Dulu di zaman purba, lebih memperhatikan hal negatif seperti suara harimau di semak-semak bisa menyelamatkan nyawa kita. Sebaliknya, sekadar memperhatikan cantiknya pelangi tidak akan bikin kita bertahan hidup. Ditambah lagi, kita punya fenomena psikologis bernama rosy retrospection. Ini adalah kehebatan otak kita dalam memoles memori masa lalu agar terasa jauh lebih indah dari aslinya. Kita ingat manisnya bermain waktu SD, tapi lupa betapa stresnya menghadapi ujian atau susahnya hidup tanpa teknologi. Gabungan antara otak yang panik pada berita buruk dan memori yang terdistorsi ini, rupanya dieksploitasi habis-habisan oleh industri berita dan algoritma media sosial.

IV

Di sinilah kejutan besarnya muncul. Jika kita menyingkirkan perasaan cemas sesaat dan mulai melihat data ilmiah yang keras, ceritanya berbalik seratus delapan puluh derajat. Kita sebenarnya sedang mengalami apa yang disebut oleh para pakar sebagai declinism. Ini adalah ilusi kognitif yang membuat kita merasa keadaan terus memburuk, padahal fakta empiris membuktikan sebaliknya. Coba kita lihat angka-angkanya bersama-sama. Angka kemiskinan ekstrem global telah anjlok dari sekitar 90% pada dua abad lalu menjadi kurang dari 10% hari ini. Angka harapan hidup manusia melonjak dua kali lipat hanya dalam seabad terakhir. Tingkat kematian ibu dan bayi ada di titik paling rendah dalam seluruh sejarah peradaban. Bahkan, meski berita konflik sering menghiasi layar ponsel, kenyataannya kita hidup di salah satu era paling damai jika diukur dari rasio kematian akibat peperangan. Secara saintifik, dunia tidak sedang hancur. Dunia kita justru secara fundamental jauh lebih sehat, lebih sejahtera, dan lebih aman dibandingkan zaman kakek-buyut kita.

V

Tentu saja, mengatakan dunia sudah lebih baik bukan berarti dunia kita sudah sempurna. Sama sekali tidak. Kita sadar betul bahwa kita masih punya segudang tantangan serius. Ketimpangan ekonomi, krisis iklim, dan kesehatan mental menuntut perhatian penuh kita. Namun, terjebak dalam ilusi declinism ini sangat berbahaya bagi mental kita. Kalau kita terus-menerus merasa dunia sudah pasti hancur, kita akan kehilangan motivasi untuk peduli. Keputusasaan itu melumpuhkan langkah kita, sedangkan data dan fakta memberikan kita pijakan untuk bangkit. Menyadari bahwa umat manusia telah berhasil memecahkan begitu banyak masalah mengerikan di masa lalu, seharusnya menumbuhkan rasa optimis. Lain kali teman-teman merasa kewalahan dengan siklus berita buruk, tarik napas panjang. Ingatlah bahwa otak kita memang dirancang secara evolusioner untuk sedikit paranoid. Mari kita gunakan akal sehat dan empati kita untuk terus memperbaiki dunia, bukan sekadar meratapinya di kolom komentar.